Evaluasi menurut Tyler adalah proses penentuan sejauhmana tujuan pendidikan tercapai (Mardhafi, 2004). Definisi evaluasi menurut berbagai pendapat mengkerucut bahwa evaluasi didalamnya berisi informasi tentang pelaksanaan dan keberhasilan suatu program yang selanjutnya akan digunakan untuk menentukan kebijakan apa yang akan diambil. Tujuan dari evaluasi pembelajaran adalah untuk mengevaluasi pelaksanaan dan keberhasilan program pembelajaran yang telah direncanakan, harapannya dapat memotivasi guru untuk meningkatkan pembelajaran dan mendorong siswa untuk belajar lebih baik lagi.
Pada
Pendidikan terdapat dua pengertian tentang penilaian yaitu penilaian dalam arti
asesmen dan penilaian dalam arti evaluasi. Penilaian dalam arti asesemen
mengandung arti suatu kegiatan yang dilaksanakan untuk memdapatkan informasi
hasil belajar dan kemajuan siswa melalui berbagai tagihan untuk mencapai tujuan
pembelajaran. Penilaian dalam arti evaluasi maksudnya suatu kegiatan yang
dirancang untuk mengukur efektifitas suatu program pendidikan.
Efektivitas
program pembelajaran dapat diukur melalui peran setiap komponen pembelajaran
yang dapat dilakukan melalui alat ukur baik tes atau non tes. Proses pengukuran
dilakukan untuk mengetahui performa dari sesuatu atau kemampuan seseorang, baik
asfek sikap, pengetahuan atau keterampilan (Retnawati, 2015). Teknik tes dapat
menggunakan istrumen tes baik lisan atau tulisan baik paper pencil atau tes
berbasis komputer, untuk instrumen non tes dapat berbentuk angket wawancara,
observasi dan dukumentasi. Pertanyaan dalam angket/kuesioner bisa berbentuk
pertanyaan pilihan ganda, uturan bertingkat, rating scale, pertanyaan terbuka.
Perkembangan
teknologi yang berkembang saat ini pada era revolusi industri 4.0, kita dapat
memanfaatkan teknologi dalam membuat dan menyebarkan kuesioner melalui google
form, fungsi dari Google form
adalah membuat kuesioner dengan bentuk formulir, melalui formulir ini kita bisa membuat
daftar hadir, isi instrumen berupa pertanyaan, baik menggunakan jawaban pendek,
panjang atau pilihan.
Berdasarkan
hasil evaluasi pembelajaran guru PAI dengan instrumen pembelajaran berupa
kinerja guru yaitu perencanaan, pelaksanaan dan penilaian pembelajaran
(Asdhiani, 2017). Hasil atau informasi yang diperoleh adalah dari guru SMP, SMA
dan SMK wilayah Cibitung, Karang Bahagia, Sukatani dan Sukakarya yang terdata
oleh pengawas PAI siaga sebanyak 80 orang, yang terdata oleh siaga sebanyak 62
orang, yang terdata EMIS PENDIS sebanyak 48 guru PAI. Jumlah sisa guru yang
belum membuat akun siaga atau EMIS karena belum menyelesaikan S1 (biasanya GPAI
dari sekolah swasta), sudah selesai S1 tapi belum ada ijaza, sekolah belum
mempunyai NPSN atau guru tersebut belum mengetahui pentingnya akun siaga dan
EMIS karena belum lama mengajar PAI.
Hasil kuesioner yang sudah dishare di guru binaan melalui link wa grup, yang mengisi kuesioner sebanyak 48 guru PAI jadi baru 60% yang sudah mengisi kuesioner 40% belum mengisi data. Sebagian besar guru yang mengisi adalah guru SMP 77%, sisanya 27% adalah guru SMA dan SMK, untuk GPAI SMA dan SMK yang terdata sekitar 25 orang yang mengisi kuesioner sebanyak 11 orang 44%, sisanya belum berperan aktif dalam program kepengawasan, data di atas akan dijadikan landasan perlunya MGMP pada wilayah binaan pada semester 2 tahun ajaran 2023. Data bisa dilihat pada file dibawah ini.
(https://docs.google.com/spreadsheets/d/1VAIwVAlxbaK3v4rNo3Yz_9UALqopTXYkj7cdIdi-YHo/edit#gid=1980551268)
Hasil
data yang kedua adalah kurikulum yang digunakan sebagian besar guru PAI wilayah
binaan adalah kurikulum merdeka sebanyak 95% guru menggunakannya sisanya sudah
menggunakan kurikulum merdeka yaitu di SMPN 4 dan 8 Cibitung. Guru yang sudah
mempunyai akun siaga 100% dari 48 orang berdasarkan akun siaga 60 orang yang
belum mengisi 18 orang, dan yang sudah memiliki akun EMIS sebanyak 30 orang
yaitu 63%, jika berdasarkan data EMIS sebanyak 48 orang jadi yang belum mengisi
12 orang.
Hasil
data yang ketiga yaitu perencanaan pembelajaran instrumen yang disajikan adalah
program tahunan, program semester, silabus, RPP/modul ajar, jadwal pelajaran,
agenda guru, absen siswa, bahan ajar sebesar 95%, artinya sebagian besar guru
mempunyai perangkat pembelajaran, untuk media pembelajaran mempunyai nilai 72%
artinya baru 35 guru yang mempersiapkan dan mempunyai media pembelajaran jumlah
sisanya belum memiliki media pembelajaran.
Informasi hasil yang keempat pada instrumen Proses
Pembelajaran, berdasarkan data gambar bahwa guru sudah melaksanakan kehiatan
awal/pendahuluan, kegiatan inti dan kegiatan penutup dalam pembelajaran
rata-rata 90% keatas, untuk aplikasi metode yang digunakan 96% masih banyak
yang menggunakan metode ceramah dan demontrasi
96%, aplikasi metode yang berbasis student centered problem based
learning, discovery, project based learning masih jarang digunakan dengan
rata-rata 42%, 50% dan 38% sekitar 20/24 guru yang baru mengaplikasikannya. Untuk
aplikasi media pembelajaran berbasis IT sebesar 70%. Data ini akan menjadi
bahan tindak lanjut pada pembinaan guru pada semester ini.
Hasil informasi yang kelima adalah Penilaian
pembelajaran berdasarkan intrumen yang disajikan dalam google form tentang
penilaian berisi kuesioner tentang penilaian sikap. Pengetahuan, keterampilan,
dan penilaian lainnya berupa kisi-kisi soal, membuat soal harian/PTS/PAS,
analisis butir soal, rubrik, pedoman penskoran, bank soal
Pada
penilaian sikap guru sebagian besar sudah mempunyai format penilaian sikap 91%,
namun realitanya masih banyak guru yang belum paham membuat indikator sikap dan
menerapkan dalam penilaian. Yang sudah melaksanakan penilaian sikap berupa
jurnal 56%, padahal bentuk penilaian ini paling mudah dan simpel namun belum
optimal digunakan. Yang sudah melaksanakan penilaian antar teman 75% dan
melaksanakan penilaian diri 91%. Untuk penilaian sikap idealnya dalam satu bab
dilaksanakan walaupun dalam rapot deskripsi sikap disamakan dan di rapot
kurikulum merdeka hanya satu nilai yang muncul.
Pada penilaian pengetahuan guru sebagian besar
sudah melaksanakan rata-rata diats 85% dan 90%. Penilaian ini merupakan
penilaian yang lebih banyak digunakan oleh guru PAI yang menerapkan kurikulum
2013, untuk guru PAI yang menerapkan kurikulum merdeka hasil observasi lebih
menonjolkan nilai keterampilan/unjyk kerja, idealnya seimbang dalam satu bab
ada peniliaan sikap, pengetahuan dan keterampilan, artinya pada setiap
pertemuan guru memfokuskan mau menilai apa dan bagaimana caranya, dengan cara
blended learning guru dapat memggunakan google classroom untuk memfasilitasi
pengumpulan tugas/nilai jika waktu pembelajaran terbatas di kelas.
Sebagian
besar guru sudah mempunyai format peniliaan 97% karena ada di RPP/modul ajar,
namun untuk pelaksanaan masih kurang optimal jika melihat data kuesioner
rata-rata di bawah 70% dalam melaksanakan unjuk kerja berupa project atau
produk, namun rata-rata melaksanakan unjuk kerja berupa membaca Al Quran,
hapalan surat dan praktek ibadah diatas 70%. Sebagian besar guru belum memahami
rubrik dan pedoman penskoran dengan nilai rata-rata di bawah 60%, maka hal
tersebut akan dijadikan rujukan untuk bahan pembinaan selanjutnya.

0 komentar:
Posting Komentar